Foto: Ilustrasi
Perjalanan Sejarah Investasi Berkelanjutan
Pada abad ke-7, melalui ajaran Islam, lahir sebuah aturan tegas bahwa uang tidak boleh diinvestasikan pada praktik yang memiliki sepenuhnya uncertainty seperti perjudian dan aktivitas-aktivitas lainnya yang dilarang, termasuk industri yang merusak moral. Prinsip ini berkembang menjadi investasi berbasis syariah dan ini merupakan bentuk awal screening investasi bertanggung jawab. Berlanjut pada abad ke-17, muncul larangan dari komunitas Quakers dan anggotanya di Amerika Serikat yang melarang menanamkan uang dalam industri perbudakan dan perdagangan senjata perang. Menariknya, prinsip ini dipegang teguh oleh institusi finansial besar seperti Barclays dan Lloyds yang kini masih berdiri teguh.
Lebih lanjut abad ke-18, John Wesley selaku pendiri gerakan Methodist memelopori khotbah “The Use of Money”, yang menekankan prinsip “Hasilkan uang sebanyak mungkin tanpa menyakiti tetanggamu”. Gerakan ini mengkritisi investasi pada perusahaan “berdosa” dan menghindari saham di industri alkohol, tembakau, dan senjata. Sejarah terus berlanjut hingga abad ke-20, dimana dimulai dari sebatas memboikot saham “berdosa”, isu perang, hingga krisis lingkungan, sejarah membuktikan bahwa strategi investasi kini telah matang dan terus berkembang hingga muncul standar global berbasis Environment, Social, and Governance (ESG).
Hingga saat ini di era modern, investasi ini dikenal dengan sebutan investasi sosial yang bertanggung jawab (socially responsible investment) dan nantinya sebagai bentuk aksi nyata diterapkan oleh investor sebagai investasi berkelanjutan (sustainable investment). Secara definisi umum, investasi berkelanjutan adalah praktik menanamkan modal pada instrumen investasi yang terbukti menerapkan prinsip kelestarian lingkungan, tanggung jawab sosial, dan tata kelola yang baik atau dikenal dengan ESG.
Pemahaman Investasi Berkelanjutan
Secara pengertian lebih lanjut, terdapat terminologi yang dikenal juga sebagai keuangan berkelanjutan (sustainable finance). Keuangan berkelanjutan adalah sebuah ekosistem dengan dukungan menyeluruh berupa kebijakan, regulasi, norma, standar, produk, transaksi, dan jasa keuangan yang menyelaraskan kepentingan ekonomi, lingkungan hidup, dan sosial dalam pembiayaan kegiatan berkelanjutan dan pembiayaan transisi menuju pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan. Hal ini secara umum tidak terpisahkan dengan investasi berkelanjutan dan saling berkaitan, dengan investasi berkelanjutan lebih menitik beratkan sebagai opsi aksi yang dimiliki investor untuk memilih produk keuangan yang berbasis ESG.
Membahas lebih jauh terkait ESG, ESG adalah kompas utama dalam meninjau sebuah perusahaan melakukan kegiatan yang disebut “berkelanjutan”. ESG terdiri atas tiga pilar yang saling melengkapi, sebagaimana dirangkum pada Tabel berikut.
Tabel 1. Rangkuman ESG

Pentingnya Investasi Berkelanjutan
Perubahan iklim menjadi tantangan baru bagi seluruh umat manusia. Krisis ini bukan hanya tanggung jawab pemerintah atau satu negara saja, melainkan melibatkan kolaborasi global dari berbagai elemen mulai dari individu, lembaga, hingga sektor industri di seluruh dunia. Dari sisi lingkungan. Berdasarkan Global Energy Review 2026, emisi karbon dioksida (CO2) kembali memecahkan rekor pada tahun 2025 mencapai sekitar 38,4 gigaton. Meski demikian, ditinjau dari kenaikan tahunan tercatat naik elandai ke level +0,4% atau sekitar 145 juta ton dari tahun sebelumnya, dan 5% di atas level 2019.
Data tersebut menegaskan betapa mendesaknya pengelolaan emisi CO2. Tingginya emisi CO2, yang dipicu oleh aktivitas yang belum menerapkan prinsip ramah lingkungan, berimbas langsung pada pemanasan global dan perubahan iklim yang ekstrem. Melalui investasi berkelanjutan, investor tidak hanya mengejar imbal hasil untuk meraih tujuan finansial, melainkan juga berperan aktif dalam meminimalkan dampak buruk dari praktik operasional yang tidak ramah lingkungan.
Tren Investasi Berkelanjutan
Di pasar global, tren investasi berkelanjutan terus mengalami peningkatan. Berdasarkan Global Sustainable Investment Review 2024, yang menggunakan data total dana kelolaan reksa dana di pasar global yang dianalisis senilai USD 61,7 triliun di Eropa, Amerika Serikat, Kanada, Jepang, serta Australia, dan Selandia Baru, sekitar 27% atau USD 16,7 triliun pada tahun 2024 tercatat investasi berkelanjutan terus bertumbuh. Nominal ini dihitung menggunakan penerapan pendekatan Responsible & Sustainable Investing (R&SI). Pendekatan R&SI ini merupakan harmonisasi definisi yang diadopsi demi memperoleh imbal hasil finansial dan/atau mencapai hasil yang berkelanjutan.
Di Indonesia sendiri, ekosistem investasi berkelanjutan berjalan melalui beberapa instrumen dan praktik yang umum dikenal seperti green sukuk atau sukuk hijau. Indonesia adalah negara pertama yang merilis sukuk hijau pada tahun 2018. Mengutip pernyataan Mantan Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati, melaporkan total penerbitan Green Sukuk yang mencakup Global Green Sukuk, Green Sukuk Ritel, dan Project Based Sukuk) secara kumulatif telah mencapai Rp185,6 triliun hingga tahun 2025, dengan perincian penerbitan sukuk global sebesar USD 6,6 (setara Rp107,11 miliar) dan pasar domestik sebesar Rp78,7 triliun.
Selain instrumen green sukuk, terdapat indeks saham berbasis keberlanjutan di Bursa Efek Indonesia (BEI). Indeks SRI-KEHATI, merupakan hasil kerja sama BEI dengan Yayasan Keanekaragaman Hayati Indonesia (KEHATI) yang diluncurkan pada 8 Juni 2009 dan tercatat sebagai indeks hijau pertama di ASEAN serta kedua di Asia. Indeks SRI-KEHATI sebagai pionir investasi berprinsip ESG dan standar United Nations’ PRI di pasar modal Indonesia. Indeks ini bertujuan menciptakan sinergi antara konservasi dan bisnis melalui 25 saham pilihan di BEI, dengan peninjauan berkala setiap bulan Mei dan November. Selain itu, terdapat juga indeks IDX ESG Leaders yang diluncurkan bersama lembaga pemeringkat internasional Morningstar Sustainalytics pada 14 Desember 2020. Sesuai dengan namanya, indeks ini berisi konstituen yang merangkum 30 emiten dengan profil risiko ESG paling rendah. Berdasarkan historis, kinerja kedua indeks ini terpantau cenderung lebih baik dan resilien dibandingkan indeks besar lainnya seperti LQ45 dan LQ80 saat IHSG mengalami drawdown.
Selanjutnya, terdapat Bursa Karbon Indonesia (IDXCarbon) uang diluncurkan pada 26 September 2023 guna memperkuat skema Nilai Ekonomi Karbon. Berdasarkan data OJK, akumulasi transaksi di bursa tersebut telah menembus angka Rp93,81 miliar hingga Juni 2026. Adapun transaksi perdagangan karbon lintas negara (internasional) perdana via IDXCarbon resmi dibuka pada 20 Januari 2025.
Selain instrumen pasar modal, keuangan berkelanjutan di Indonesia juga diarahkan membiayai transisi energi riil di sektor ekonomi seperti pengolahan sampah menjadi energi (waste to energy) dan energi terbarukan. Pada sektor pengolahan sampah, pemerintah menerbitkan Peraturan Presiden Nomor 109 Tahun 2025 yang menggantikan Perpres 35/2018 dan mendelegasikan koordinasi investasi kepada Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara. Nilai investasi ini mencapai sekitar USD 5 miliar, dengan cakupan lebih dari 30 lokasi dan diproyeksikan akan mengolah 13,2 juta ton per tahun.
Manfaat Investasi Berkelanjutan
Menelisik dari sisi manfaat, investasi berkelanjutan tentunya tidak hanya memberikan dampak sebagaimana yang disematkan dalam basis ESG, tetapi terdapat manfaat lainnya dari sisi fundamental perusahaan itu sendiri sebagai berikut.
- Berdasarkan penelitian Masiero et al. (2020) serta Odriozola & Baraibar-Diez (2017), penerapan dan pengungkapan standar keberlanjutan terbukti mampu meningkatkan tingkat akuntabilitas operasional sekaligus membangun reputasi bisnis yang positif di mata para pemangku kepentingan.
- Berdasarkan penelitian Pulino et al. (2022), Demers et al. (2021), Hartzmark & Sussman (2019), serta Miralles-Quirós et al. (2019), perusahaan dengan komitmen ESG yang tinggi cenderung mencatatkan profitabilitas yang lebih baik sekaligus memiliki daya tahan bisnis yang tangguh untuk meredam penurunan kinerja saat krisis terjadi.
- Berdasarkan penelitian Broadstock et al. (2021), integrasi dimensi ESG dalam pertimbangan investasi memberi keuntungan bagi investor melalui peningkatan kinerja portofolio dan imbal hasil yang optimal, sekaligus meminimalisir risiko kerugian di tengah krisis ekonomi.
Tantangan Investasi Berkelanjutan
Di balik pertumbuhannya, investasi berkelanjutan menghadapi sejumlah tantangan struktural. Berikut adalah tantangan yang berpotensi dihadapi dari investasi berkelanjutan.
- Risiko greenwashing (klaim keberlanjutan semu) yang menciptakan risiko reputasi dan finansial, seperti ketidaksesuaian alokasi belanja rendah karbon Shell pada tahun 2021 yang menyebutkan belanja modal untuk Renewables and Energy Solution sebesar 12%, nyatanya hanya 1,5%, dan kampanye plastik Coca-Cola “World Without Waste” yang tidak sejalan dengan penggunaan plastik sekali pakai dalam kemasannya.
- Kendala struktural berupa belum adanya standar pelaporan ESG global tunggal, keterbatasan data terverifikasi terutama bagi emiten skala menengah-kecil, biaya implementasi yang tinggi, serta risiko evolusi regulasi dan taksonomi yang terus berubah.
Cara Memulai Investasi Berkelanjutan
Perkembangan teknologi finansial telah mendemokratisasi akses masyarakat terhadap produk investasi hijau. Berikut panduan praktis bagi investor.
- Waspadai greenwashing dengan meninjau sustainability report tahunan emiten dan fakta lapangan melalui kanal media serta meninjau Fund Fact Sheet untuk produk reksa dana guna memverifikasi alokasi dana secara nyata, bukan sekadar klaim marketing.
- Investor dapat memanfaatkan indeks acuan seperti indeks SRI-KEHATI atau IDX ESG Leaders di BEI. Sementara itu, untuk reksa dana, pilih Manajer Investasi yang transparan atau yang memiliki tujuan mengintegrasikan parameter ESG dalam setiap produknya,
- Investor juga dapat turut melakukan investasi pada instrumen Green Sukuk Ritel yang diterbitkan Kementerian Keuangan melalui platform Agen Penjual Efek Reksa Dana (APERD), sekuritas, atau bank.
Kesimpulan
Investasi berkelanjutan kini semakin krusial mengingat dampak positif yang dihasilkannya, baik terhadap kelestarian lingkungan maupun penguatan fundamental perusahaan yang menerapkannya. Langkah ini merupakan aksi nyata bagi para investor untuk mendukung keberlanjutan berbasis aspek lingkungan, sosial, dan tata kelola (ESG). Melalui pilar lingkungan, investor berpartisipasi aktif dalam meredam dampak perubahan iklim dan pemanasan global. Dari sisi sosial dan tata kelola, integrasi ESG mendorong terciptanya kesetaraan, transparansi, serta akuntabilitas operasional yang memperkuat daya tahan perusahaan dalam menghadapi krisis. Pada akhirnya, kolaborasi dan komitmen dalam investasi berkelanjutan ini tidak hanya mengoptimalkan imbal hasil finansial, tetapi juga menciptakan ekosistem ekonomi yang lebih baik, inklusif, dan tangguh demi menjamin kehidupan yang layak bagi generasi penerus.
Muhamad Rizky Rizqita
Departemen Edukasi, Literasi, dan Inklusi Investasi
Asosiasi Penasihat Investasi Indonesia (APII)
Referensi
A., B. (2024, May 2). The Lies They’ve Told Us: Coca-Cola and their ‘World Without Waste’ Greenwashing Campaign. ILLUMINATION. https://medium.com/illumination/the-lies-theyve-told-us-coca-cola-and-their-world-without-waste-greenwashing-campaign-69695b8eef79
Binus University. (2023). Memahami pentingnya sustainable investing. https://accounting.binus.ac.id/2023/05/08/memahami-pentingnya-sustainable-investing/
Broadstock, D. C., Chan, K., Cheng, L. T. W., & Wang, X. (2021). The role of ESG performance during times of financial crisis: Evidence from COVID-19 in China. Finance Research Letters, 38, 101716. https://doi.org/10.1016/j.frl.2020.101716
Carnini Pulino, S., Ciaburri, M., Magnanelli, B. S., & Nasta, L. (2022). Does ESG disclosure influence firm performance? Sustainability, 14(13), 7595. https://doi.org/10.3390/su14137595
Danantara Indonesia. (n.d.). Waste to energy. Danantara Indonesia. Retrieved August 17, 2026, from https://www.danantaraindonesia.co.id/id/dim/investment-project/waste-to-energy
Demers, E., Hendrikse, J., Joos, P., & Lev, B. (2021). ESG did not immunize stocks during the COVID‐19 crisis, but investments in intangible assets did. Journal of Business Finance & Accounting, 48(3–4), 433–462. https://doi.org/10.1111/jbfa.12523
Fachri, F. K. (2024, March 19). Belum Diatur Khusus, Regulasi ESG Tersebar di Berbagai Peraturan. Hukumonline.Com. https://www.hukumonline.com/berita/a/belum-diatur-khusus--regulasi-esg-tersebar-di-berbagai-peraturan-lt65f9d2f8dde80/
Global Sustainable Investment Alliance. (2025). Global Sustainable Investment Review 2024. https://www.gsi-alliance.org/wp-content/uploads/2025/11/GSIR-2024-Data-Annex.pdf
Hartzmark, S. M., & Sussman, A. B. (2019). Do investors value sustainability? A natural experiment examining ranking and fund flows. The Journal of Finance, 74(6), 2789–2837. https://doi.org/10.1111/jofi.12841
Hasiana, D. (2025, June 13). RI Sudah Terbitkan Sukuk Hijau Capai Rp185,7 Triliun hingga 2025 - Market. Bloomberg Technoz. https://www.bloombergtechnoz.com/detail-news/73966/ri-sudah-terbitkan-sukuk-hijau-capai-rp185-7-triliun-hingga-2025
IDX Carbon. (n.d.). IDX Carbon. IDX Carbon. Retrieved August 17, 2026, from https://idxcarbon.co.id/
IEA - International Energy Agency. (2026). Global energy review 2026. https://iea.blob.core.windows.net/assets/df903e1c-49c6-4757-8cbf-6fbcfe7611a0/GlobalEnergyReview2026.pdf
Keuangan hijau. (n.d.). Retrieved August 17, 2026, from https://www.bi.go.id/id/fungsi-utama/stabilitas-sistem-keuangan/keuangan-hijau/default.aspx
Masiero, E., Arkhipova, D., Massaro, M., & Bagnoli, C. (2019). Corporate accountability and stakeholder connectivity. A case study. Meditari Accountancy Research, 28(5), 803–831. https://doi.org/10.1108/medar-03-2019-0463
Miralles-Quirós, M. M., Miralles-Quirós, J. L., & Redondo Hernández, J. (2019). ESG performance and shareholder value creation in the banking industry: International differences. Sustainability, 11(5), 1404. https://doi.org/10.3390/su11051404
Odriozola, M. D., & Baraibar‐Diez, E. (2017). Is corporate reputation associated with quality of CSR reporting? Evidence from spain. Corporate Social Responsibility and Environmental Management, 24(2), 121–132. https://doi.org/10.1002/csr.1399
Otoritas Jasa Keuangan. (n.d.). Keuangan Berkelanjutan. OJK. https://keuanganberkelanjutan.ojk.go.id/keuanganberkelanjutan/
Rachman, A. (2024, October 3). Green Sukuk Laku Keras, RI Dapat Uang Sekaligus Jaga Bumi dari Bencana. Cnbcindonesia.Com. https://www.cnbcindonesia.com/syariah/20241003122417-29-576655/green-sukuk-laku-keras-ri-dapat-uang-sekaligus-jaga-bumi-dari-bencana
ramdasbalwad. (2019, November 15). Cnote. CNote. https://www.mycnote.com/blog/the-history-of-socially-responsible-investing/?source=post_page-----f38a4461fdcb---------------------------------------
rexy. (2024, May 27). 11 Dampak Buruk Emisi terhadap Lingkungan dan Kesehatan - IEC. Indonesia Environment & Energy Center. https://environment-indonesia.com/11-dampak-buruk-emisi-terhadap-lingkungan-dan-kesehatan/
Segal, M. (2023, February 2). Climate group accuses shell of greenwashing in complaint to SEC. ESG Today. https://www.esgtoday.com/climate-group-accuses-shell-of-greenwashing-in-complaint-to-sec/
SRI-KEHATI. (n.d.). Indeks SRI-KEHATI. Retrieved August 17, 2026, from https://kehati.or.id/investasi-hijau/sri-kehati
Sustainability IDX. (n.d.). Understanding Sustainability and ESG. IDX Sustainability. https://sustainability.idx.co.id/page/understanding-sustainability-and-esg
Younas, H. (2022, June 13). A brief history of socially responsible investing. Medium. https://medium.com/@hyounas24/a-brief-history-of-socially-responsible-investing-f38a4461fdcb